DI REUNI PECINTA ALAM MAHAMAPALA
Kamis, 02 Juli 2009
Jumat, 29 Mei 2009
GANBATTE KUDASAI,,,,,,,JIBUN NO KOTO,JIBUN DE KANGAETE
GUNUNG FUJI.......SIMBOL JAPAN





Gunung Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka danYamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaituGotemba (timur), Fuji-Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.
Gunung Fuji adalah simbol Jepang yang terkenal dan sering digambarkan dalam karya seni dan foto-foto, serta dikunjungi pendaki gunung maupun wisatawan.
Gunung Fuji diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. [1] Sebuah gunung berapi yang kini masih aktif walaupun memiliki kemungkinan letusan yang rendah, Fuji terakhir kali meletus pada tahun 1707. Terdapat lima danau di sekeliling Fuji, yaituDanau Kawaguchi, Danau Yamanaka, Danau Sai, Danau Motosu dan Danau Shoji.
Sekitar 200.000 orang mendaki Gunung Fuji setiap tahunnya, 30% di antaranya orang asing. Tenggat waktu yang paling populer bagi para pendaki adalah dari 1 Juli hingga 27 Agustus. Pendakian bisa memakan waktu dari 3 hingga 7 jam sementara penurunan gunung mencapai sekitar 2 hingga 5 jam.
GUNUNG FUJI,,,,,SHIZUOKA,JAPAN 2007


Jepang adalah salah satu negara di kawasan asia yang sukses menguasai dunia, padahal kalau dibandingkan, kekayaan alam Jepang jauh dibawah kekayaan alam yang dipunyai Indonesia, terlepas dari karakter dan kultur bangsa Jepang, ternyata gunung Fuji adalah salah satu pembangkit semangat bagi bangsa Jepang untuk terus berfikir kreatif, inovatif, untuk menciptakan hal-hal baru yang dianggap mustahil sekalipun.
Gunung Fuji yang berarti “keabadian” mempunyai ketinggian 3.776 meter diatas permukaan laut, merupakan gunung tertinggi di Jepang sekaligus menjadi simbol bagi rakyat Jepang. Karena bentuknya yang megah menjadikan gunung Fuji sebagai gunung kramat, konon para wanita tidak diperbolehkan untuk mendakinya karena dewi gunung Fuji akan cemburu.
Rupanya daya tarik Gunung Fuji memang sangat kuat, baik bagi orang Jepang sendiri maupun bagi orang asing. Terbukti di pintu Kawaguci ini banyak sekali rombongan yang bersiap-siap akan melakukan pendakian pada malam itu. Melihat penampilan dan mendengar percakapan mereka, jelas sekali rombongan-rombongan itu terdiri dari orang-orang dari berbagai negara.
Setelah bersiap-siap juga makan malam, pada pukul 21.20 dimulailah pendakian ini. Kami berangkat dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 6-7 orang, kecuali kelompok aku, hanya lima orang.
Perjalanan ini sungguh di luar apa yang aku bayangkan. Walaupun menerima begitu banyak informasi seperti yang aku ceritakan di atas, aku tetap membayangkan Gunung Fuji begitu cantik, seperti paronama pada potret atau lukisan. aku membayangkan akan berjalan di jalan setapak yang dilindungi rimbun pepohonan, diiringi gemercik air dari mata air alami, dan ramainya suara serangga malam yang bernyanyi. Ah, rupanya aku membayangkan gunung-gunung di Indonesia yang semua cantik-cantik.
Lereng Gunung Fuji ternyata memang hanya terdiri dari batu-batu, kerikil dan pasir. Batu-batu besar yang membuat saya harus mengangkat kaki tinggi-tinggi atau merangkak memanjatnya. Kerikil dan pasir yang bisa membuat aku tergelincir jika tidak membenamkan kaki kuat-kuat di atasnya, serta debu yang sangat mengganggu nafas dan masuk ke mata ketika orang di depan melangkahkan kakinya. Belum lagi angin besar yang menampar-nampar tubuh ku karena tak satu pun pohon yang menghalangi geraknya. Angin yang membawa hawa dingin menusuk tulang, hawa dingin yang membuat ujung-ujung jari ku kehilangan sensasi. Menurut informasi yang diterima suhu Gunung Fuji malam itu sekitar 6C.
Satu-satunya pemandangan menarik malam itu hanyalah melihat gerakan cahaya yang berasal dari senter para pendaki. Perlahan-lahan bergerak ke atas, beriringan dalam pola zigzag merambati punggung Gunung Fuji. Seperti barisan kunang-kunang yang sangat rapi. Makin ke atas pergerakannya makin lambat, karena jalan makin menyempit, sedangkan pendaki makin banyak, karena pendaki dari 4 jalur pendakian bersatu masuk ke jalan yang sama menuju puncak. Sehingga rasanya lucu juga, mendaki gunung kok pakai acara macet, seperti macetnya mobil-mobil setiap pagi di surabaya atau jakarta. Satu dua langkah ke depan, lalu berhenti beberapa menit, baru melangkah lagi.
Kelompok ku tiba di atas pada hari Minggu pukul 04.00. Itu pun tinggal 3 orang, karena yang 2 orang tertinggal di pos 8, dan kami bertiga pun berhasil mencapai puncak. sampai di ketinggian 3776m. di samping kaki kami yang sudah terlalu lelah, kami juga tak tahan dengan tamparan angin pada pagi itu, yang terasa semakin menggigit. Tapi walaupun demikian, di ketinggian ini kami tetap dapat menikmati mentari terbit yang sangat indah. berubahnya warna malam, ketika bulan menyusup ke balik awan. Berganti dengan semburat fajar berwarna jingga diikuti sang surya bersinar memperlihatkan putihnya hamparan awan di kaki gunung. Pemandangan yang tak pernah aku temukan di manapun juga sebelumnya. Rasanya terbayar sudah perjalanan melelahkan kami sepanjang malam.
Setelah sekitar 2 jam kami beristirahat, dan sang surya pun telah bulat sempurna. Kami memulai perjalanan turun, tentu tak lupa menjemput dulu teman yang tertinggal di pos 8. Perjalan turun lebih cepat, kami tempuh dalam waktu 5 jam saja sampai di pintu Danau Kawaguci, tempai kami memulai pendakian.


